GEGER KRATON SURAKARTA

GEGER KRATON SURAKARTA
Geger Kraton Surakarta kalau dilihat dari catatan sejarah merupakan hal yang biasa, artinya sudah pernah terjadi, baik itu dalam skala berat maupun ringan. Dan kali ini kita semua menjadi saksi, atas berseterunya para pewaris keraton ini. Namun kini perseteruan itu, dapat diselesaikan dan terjadilah “rujuk” kembali. Selama  8 tahun api perseteruan ini tidak hanya memanasi  raja, tetapi sudah barangtentu merembet ke akar yang lebih jauh. Sehingga walaupun rajanya rujuk_ dingin, pada bagian bagian tertentu masih terasa panas, dan belum terasa sejuk. Namun kita berfikir positif bahwa ontran ontran di Kraton Surokarto ini, akan segera menemukan titik perdamaian secara menyeluruh.
RUJUKNYA DUA RAJA
Hari hari terakhir seluruh media masa di Solo dan sekitarnya mengangkat  “rujuknya dua raja” sebagai topik utama.  Ini sangat menarik untuk dibicarakan_terutama media masa, mengingat perseteruan dua raja ini sudah berlangsung delapan tahun. Dan bagi kita  yang tidak mempunyai bisnis media masa, membicarakan  rujuknya  dua raja ini terasa kurang nyaman, mengingat kita berada diluar ring.
Terkait dengan rujuknya dua raja ini memunculkan berbagai tapsir  di media masa.  Dosen Sejarah UNS, Sudarmono, terang terangan  mengatakan bahwa semua itu karena terkait ( diskusi di Solopos FM)  Joko Wi  untuk kepentingan kampanye sebagai gubernur DKI. Sedangkan  yang lain menanggapinya dengan cara dan pandangan yang berbeda beda pula.
Tulisan ini kita munculkan bukannya untuk ikut ikutan meramaikan suasana. Atau  ikut mengambil moment agar tidak dibilang ketinggalan jaman. Namun lebih karena keterkaitan kita dari sisi pariwisata. Langsung atau tidak langsung, jauh atau dekat, rujuknya dua raja ini akan berdampak baik bagi perkembangan pariwisata. Dikatakan demikian karena pemerintah berjanji akan mengucurkan dana yang lebih banyak untuk pelestarian heritage_Kraton, paska rekonsiliasi. Dan dari titik inilah kita nyambung dengan permasalahan rujuknya dua raja dimaksud.
Untuk itu kita, para penggiat pariwisata mendukung atau menyambut baik tetang adanya islah dua raja ini. Dan pernyataan ini telah saya sampaikan beberapa hari yang lalu ketika ditanya rekan rekan wartawan. Apa dasarnya kita, para penggiat wisata_terutama ASITA, mendukung rujuknya dua raja ini. Jangan sampai kita terperosok pada kondisi yang serba salah, mengingat masih ada pihak pihak yang berseteru, atau tidak menginginkan rujuknya dua raja ini.
Islah atau rujuk adalah kata yang sangat positif dan mengandung makna perdamaian, setelah adanya peperangan atau perselisihan. Berdasarkan kaidah  nilai nilai kebenaran universal, hati nurani kita akan selalu terdorong untuk selalu memilih perdamaian, ketimbang perselisihan. Untuk itu ketika dua raja yang berseteru rujuk, tentu kita akan menyambut dengan baik. Inilah dasar dari kita untuk mendukung langkah dua raja rujuk kembali.
Selama delapan tahun, fakta dilapangan mengatakan bahwa keraton, sebagai warisan leluhur kurang mendapatkan perhatian baik oleh pemerintah, para pemangku, atau para para yang lain. Apakah kita para penggiat wisata juga akan mempertahankan kondisi semacam ini. Tidakah kita sadari bahwa situasi dan kondisi semacam ini akan menuju ke dalam lembah kesulitan yang lebih parah.
Tentu, kita akan memilih jalur alternatif untuk melestarikan heritage_kraton, mendukung rujuknya dua raja. Masyarakat Surakarta dan para penggiat wisata mempunyai hak untuk bersuara, demi kebaikan bersama. Logika kita mengatakan bahwa  Kraton akan lebih baik dengan rujuknya dua raja, ketimbang membiarkan mereka tetap berseteru.
Ketika saudara anda bertengkar berebut warisan, bagaimana sikap anda, dan apa yang anda rasakan atau ingin sampaikan.  Akankah anda memberikan nasehat yang baik, dan menyarakan agar tidak bertengkar dan mengambil jalan musyawarah. Atau anda cuek, bertengkar atau tidak bukan urusan saya, yang penting saya tidak diganggu…memang gue pikirin. Atau anda bertepuk rangan, sorak sorai, ngompor ngompori….Memang di masyarakat timbul berbagai macam rekasi dengan munculnya cerita rujuknya dua raja ini.
Melihat pertengkaran antara saudara, di lubuk hati kita terdalam, pastilah kita merasa prihatin, dan  akan selalu mendukung mencari jalan  rujuk menuju kedamaian. Itulah yang patut kita sampaikan agar para pihak yang berselisih menggunakan hati nurani. Apapun kondisinya hatinurani akan mampu menerima keadaan. Namun kalau kita mendasarkan pada pikiran atau rasio sebagai dasar penyelesaian, tentu akan sulit mendapatkan jalan keluar yang  baik, mengingat ciri kas ratio ingin menang sendiri dan menyalahkan orang lain. www.tiket24jam.com
SELAMAT DUA RAJA _ TELAH RUJUK
Nuwun
Harto

 

 
back to top